Feeds:
Posts
Comments

Pada tanggal 30 Juni 2010, saya, Inda, Bayu, dan Freden berangkat jam 07.00 pagi menuju Gunung Hawu, Padalarang. Gunung Hawu adalah tebing di belakang Citatah 125. Dari ITB kami menggunakan motor, melewati daerah Cimahi, lalu masuk ke daerah Padalarang. Ini adalah kali pertama saya ke Padalarang sejak kecelakaan yang terjadi beberapa waktu lalu.

NdaSetelah menghubungi Nda (ini Kuncennya Citatah), ia bersedia mengajari saya pemasangan jalur sport di Gunung Hawu. Jalan ke Gunung Hawu agak off road. Kita tinggal mengikuti jalur kendaraan pertambangan sebelum toko tape. Selama perjalanan, jangan ikuti jalan menanjak. Nanti bisa nyasar ke puncak Gunung Hawu. Yah masa muncak tebing pake motor. Hahaha. Motor bisa diparkir di pinggir jalan, tapi ingat parkirnya harus sangat di pinggir, kalau tidak nanti bisa dilindas mobil – mobil pertambangan.

Kami tiba di Gunung Hawu pukul 11.00. Sebenarnya perjalanan tidak selama itu, namun tadi kami muter – muter padalarang untuk mencari mata bor. Selain itu tadi kami juga sempat ke citatah 125 untuk  menyapa pecinta alam yang sedang melakukan pemanjatan disana.

Setelah mendapatkan tutorial dari Nda, saya dan Inda pun satu persatu mencoba membuat lubang. Untuk menghasilkan satu lubang saya membutuhkan waktu kira – kira 2-2,5 jam. Maklum, mata bor nya sudah rusak alias patah.

Inda melakukan pemanjatan artificial dengan belayer Bli Bayu. Saya dan Bang Freden pergi ke warung sebentar untuk beli makanan. Ternyata hujan mulai turun, jadi saya dan Bang Freden berteduh dulu di warung.

Saat saya sudah datang ternyata tambatan – tambatan telah terpasang dan jalur siap di bor. Kami pun makan siang terlebih dahulu untuk mengisi tenaga. Setelah kelar makan siang, saya pun memakai harness dan racking alat – alat panjat, seperti bor petzl, hammer, hanger, kunci hanger, karabiner, kostel, beberapa pengaman sisip, dan skyhook. Jangan lupa menggunakan helm demi keselamatan.

Pengeboran perdana di atas tebing terasa sangat menyakitkan untuk saya. Kaki saya mati rasa luar biasa karena aliran darah yang tidak lancar. Kesemutan sudah menjadi penggelitik kaki yang terasa lemah. Dua jam saya tergantung di harness. Inda pun melanjutkan lubang yang saya buat dan memasang hangernya. Hanger pertama selesai pada pukul 20.00.

Pukul 19.00 Mas Sigit datang menyusul kami, membawakan perlengakapan tidur. Karena sebenarnya kami tidak berencana untuk bermalam. Namun karena pembuatan jalur belum selesai maka kami memutuskan untuk bermalam. Malam di Gunung Hawu cukup dingin. Kami tidak menggunakan tenda, tapi hanya menggunakan fly sheet. Jadi angin dari samping tebing bertiup sangat kencang. Saya tidak bisa tidur nyenyak, selain banyak serangga yang membuat tubuh saya gatal – gatal. Pergelangan tangan saya juga sangat pegal karena terlalu lama memalu. Oya, disini banyak sekali ulat bulnya, jadi kalo ketemu ulat bulu jangan langsung histeris. Cukup ambil daun yang tebal untuk alas tangan, pegang perlahan si ulat bulu, lalu dibungkus dengan si daun. Baru letakkan ke tempat yang jauh. Jangan langsung dilempar, nanti bulunya malah terbang kemana – mana.

Pagi hari pukul 06.00 kami sudah bangun. Inda memulai pengeboran lubang hanger kedua. Saya sibuk bikin kopi biar asooy nanti pas ngebor. Hahaa. Setelah 2 jam berlalu, gliran saya yang melakukan pengeboran lubang hanger ketiga. Dua jam bergantung di harness membuat seluruh tubuh bagian bawah saya mati rasa. Semakin lama juga semakin tidak konsen, jadi bukannya bor yang dipalu, malah tangan yang jadi korban.

Lubang hanger keempat memang agak sulit, letaknya di atas tambatan statis. Sehingga, saya harus memasang pengaman sisip baru untuk mendekatkan badan ke tebing dan menambah ketinggian. Walaupun sudah begitu, tetap saja pengeboran lubang terakhir ada di atas kepala saya. Jadi debu – debu hasil pengeboran tebing pada nyelip di mata semua.

Setelah beres semua hanger telah terpasang. Saya pun memasang runner di tiap hanger yang telah terpasang. Lalu saya pun memasang tali dinamis untuk mulai pemanjatan. Setelah semua persiapan pemanjatan beres, saya melepaskan semua tambatan tali statis.

Jalur siap dipanjat. Inda menjadi pemanjat pertama dan saya pemanjat kedua. Satupun dari kami tidak ada yang berhasil menembus jalur ini. Memang jalur ini bisa digolongkan ke grade 5.10. Namun sepertinya kami berdua sudah sangat kelelahan melakukan pengeboran. Sehingga semua tenaga sudah terkuras. Akhirnya kami meminta bantuan Bang Freden untuk menembusi jalur tersebut.

Setelah selesai pemanjatan, kami pun packing barang untuk pulang. Kami baru pulang pukul 19.00. Badan rasanya gatal semua, akhirnya saya mandi di sel. Lalu saya berangkat bersama anak KMPA untuk menonton bioskop. Kok aneh rasanya pergi ke bioskop sama para pecinta alam. Hahaa.

Setelah berdiskusi cukup panjang, akhirnya diputuskan nama jalur tersebut adalah Mahaputri. Nama ini diambil dari pembuat jalur yang perempuan semua. (yahh, walau yang nembusin si freden)

Mahaputri adalah jalur sport pertama yang dimiliki KMPA. Sebelumnya KMPA belum pernah membuat jalur sport. Semoga dengan satu jalur yang saya hasilkan ini, dapat menjadi motivasi bagi anggota RC KMPA untuk terus menambah jalur.

Salam jelajah, Winda Banyuradja

Advertisements

Pikiran saya masih agak kacau dengan kejadian kecelakaan yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Begitu pula dengan beberapa teman saya. Jadi untuk menghilangkan kepenatan kami memutuskan untuk jalan – jalan ke tegal panjang. Memang tegal panjang ini belum begitu terkenal di antara pecinta alam – pecinta alam maupun wisatawan. Akses tempat ini pun masih sulit.

Saya berangkat hari jumat, 4 juni 2010. Kami memulai perjalanan pukul 09.00, dari itb kami naik angkot jurusan dago-kalapa sampai ke terminal kalapa. Tiba di kalapa pukul 09.45.  Lalu kami pun mulai menunggu bus yang arah pangalengan. Silakan tanya saja kepada orang sekitar dimana tempat paling yahuud untuk nunggu bus ini. Karena nunggunya ga di terminal. Karena menunggu bus pangalengan ini cukup lama, jadi kami beli es  cendol dulu serta berteduh di depan rumah kosong, karena waktu itu hari hujan. Akhirnya bus pun datang kira – kira pukul 10.30.

Kami tiba di pangalengan pukul 16.00. Kami pun carter angkot ke arah desa cibatarua. Kami harus carter karena sudah tidak ada angkot jam segitu ke arah cibatarua. Yasudah kami pun naik mobil carteran. Ternyata jalan ke desa Cibatarua ini ajegilebinbuset juga yah. Jalan tersebut rusak parah, dan shockbreaker angkot yang ‘yah gmana lagi’, membuat pantat saya terasa lecet – lecet. Saat di dalam angkot, Mas Sigit (senior saya) menyetel lagu shaggy dog. Sungguh mengena tiap lirik lagu jalan-jalan dari shaggy dog. Dan sejujurnya, sambil membuat catatan perjalanan ini saya memutar lagu itu kembali. Hahaha.

Tiba di cibatarua jam 18.30, senior saya pun menemui Kang Maman untuk menginap di rumah beliau.  Ternyata beliau belum pulang. Kita pun diterima oleh istrinya. Kita pun masak di dapur rumah Kang Maman. Malamnya Kang Maman pulang dan kita pun beramah tamah.

Besok pagi kami berangkat pukul 10.00 menuju tegal panjang. Dari cibatarua kami melewati desa papandayan. Lalu dari desa papandayan kami melewati perkebunan teh. Seluas mata memandang saya hanya melihat tanaman teh yang hijau dan menyegarkan mata. Setelah itu kami melewati ladang penduduk. Masyarakat daerah ini sangat ramah. Setelah melewati ladang, kami mulai memasukki daerah hutan yang cukup lebat kira – kira pukul 11.00. Untuk mencapai tegal panjang kami harus masuk ke dalam hutan dan melewati tiga punggungan dan tiga sungai kecil. Setelah 1 jam berjalan ternyata kami salah jalan alias nyasar. Cobaan dari sang mahaalam pun datang, hujan deras mengguyur kami di tengah hutan. Kami pun memutuskan untuk menuju sungai dan memasang flysheet sebagai tenda darurat untuk berteduh. Beberapa anggota tim ada yang memasak makan siang, dan beberapa anggota lain pergi mencari jalan. Jujur saya cukup panik karena jarum jam saya telah menunjukkan jam 14.00. sedangkan kami belum baru melewati satu punggungan. Anggota tim yang mencari jalan kembali dan menyampaikan kabar yang tidak begitu baik. Mereka tidak menemukan jalur pendakian. Daerah ini memang jarang didaki dan belum terkenal. Sehingga dengan cepat tanaman – tanaman hutan akan memakan jalur pendakian. Setelah hujan reda kami pun memutuskan untuk kembali ke ladang penduduk untuk bermalam di sana. Namun dalam perjalanan pulang kami bertemu dua pemburu yang kebetulan ingin berburu di tegal panjang. Maklum, tegal panjang masih sangat alami, kita dapat menemukan berbagai jenis satwa seperti monyet, burung, babi hutan, rusa, sampai kucing hutan atau macan kumbang. Kami pun berangkat bersama pemburu tersebut ke tegal panjang.

Perlu dicatat, sungai pertama yang dilewati mengalir dari kiri ke kanan, arusnya cukup deras, dan lebar sungai kira- kira 2,5 meter. Tepat setelah sungai pertama terdapat tanjakan lurus kira – kira sejauh 15 meter. Sungai kedua adalah sungai rawa berlumpur. Dan sungai ketiga adalah sungai yang tidak begitu besar. Tegal panjang berada di punggungan setelah sungai ketiga.

Matahari sudah tenggelam dan tidak lagi ada cahaya di dalam hutan. Kami pun mengeluarkan senter masing – masing. Ingat pergerakkan malam sangat tidak dianjurkan. Setelah perjalanan yang melelahkan di tengah kerumunan tumbuhan berduri di dalam hutan, tibalah kami di tegal panjang. Sabanna luas yang dikelilingi punggungan dan gunung. Rumput – rumput setinggi paha melambai – lambai ditiup angin  lembahan memantulkan cahaya bulan yang berjaya. Padang rumput yang begitu luas diikuti oleh bentukan alam berupa cekungan sedalam 6 meter yang meliuk – liuk seperti ular raksasa.

Kami segera mendirikan tenda dan mencari kayu bakar untuk mengeringkan badan yang basah karena hujan dan keringat. Tegal panjang sangat dingin karena angin bebas berkeliaran menusuk masuk ke camp.

Pagi perdana di tegal panjang tidak akan saya sia – siakan. Saya bangun jam 05.30. Kehangat sleeping bag segera berganti dengan dingin embun rumput  yang membuat ujung- ujung kaki saya mati rasa. Saya segera mengambil kamera dan memotret sunrise tegal panjang. Kabut – kabut menyelimuti barisan punggungan yang mengelilingi tegal panjang. Matahari pun muncul seolah – olah menunjukkan kejantanannya pada para pendaki yang merindukan kehangatannya. Setelah makan pagi, saya pun jalan – jalan ke tengah padang rumput yang seolah tak bertepi. Celana saya basah karena embun ilalang yang menyapu setiap langkah kaki saya. Di tegal panjang ini terdapat kubah air sedalam 5 meter yang tidak pernah kering. Air dari kubah air ini sangat dingin.

Rumput di tegal panjang kali ini sudah setinggi paha karena saya datang pada bulan – bulan penghujan. Sebagai informasi, rumput di tegal panjang secara berkala akan dibakar warga untuk mencegah kebakaran hutan. Biasanya warga membakar rumput tersebut di awal musim kemarau. Jadi waktu yang paling tepat untuk mengunjungi tegal panjang adalah akhir musim kemarau, karena rumput – rumput baru tumbuh setinggi betis.

Tegal panjang memang tempat yang tepat untuk bermalas-malasan. Saya dan teman – teman KMPA bermain kartu, bermain monopoli, dan main bola gebok. Malam hari kedua cuaca sangat bersahabat. Langit malam begitu cerah tanpa awan. Bintang dan bulan berlomba menerangi malam hari ini.

Pagi hari ini seperti hari sebelumnya, cerah dan berkabut. Setelah puas berfoto – foto. Kamu pun berangkat pulang menuju desa cibatarua lewat jalan pergi sebelumnya. Sebenarnya dari tegal panjang kita dapat pulang melewati pondok selada, Gunung Papandayan. Tapi KTP saya kemarin ditahan oleh Pak RT Cibatarua. Dari cibatarua kita dapat naik truk pengangkut daun teh untuk sampai ke Sedep. Dari sedep kita dapat naik pick up menuju Pangalengan. Dari pangalengan kita naik angkutan umum langsung ke Bandung tepatnya ke Tega lega. Dari Tegalega kita bisa naik angkot Cisitu menuju ITB.

Begitulah perjalanan saya kali ini. Tegal Panjang, i will come back someday.

salam jelajah, Winda Banyuradja

Ini adalah jurnal perjalanan pertama yang saya kerjakan. Jurnal ini terinsipirasi dari banyak jurnal-jurnal dan blog para backpackers di indonesia. Memang saya belum menjadi backpakers sejati dan mengunjungi banyak tempat. Tapi saya akan mencoba menuangkan pengalaman – pengalaman saya disini.

Pada tanggal 24-25 september yang lalu, saya dan 10 orang lain teman saya mendaki gunung papandayan. Papandayan berlokasi di jawa barat, tepatnya di garut.

Perjalanan kami mulai dari bandung, tepatnya dari monumen di daerah dipati ukur. Kami berangkat pukul 07.00. Untuk mengisi tenaga, kami melahap bubur ayam terlebih dahulu. Lalu kami naik angkot caheum ciroyom menuju terminal caheum. Setibanya di terminal caheum, kami membayar 2000 per-orang ke sopir angkot. Dari caheum, kita akan menemukan bus yang menuju garut. Sebenarnya selain bus juga ada angkot yang menuju garut, maupun angkot yang bersedia dicarter utk mengantar sampai garut. Kami pun memilih bus, selain lebih nyaman tempat duduknya, kami cukup banyak utk satu angkot. Di perjalanan yang cukup lama, kita akan sering terhibur dengan pengamen -pengamen yang hilir mudik di dalam bus. Yah, tergantung selera musik anda masing- masing tentunya. Kami tiba di terminal guntur garut kira – kira pukul 09.00 atau 09.30.

Setelah tiba di terminal guntur, lebih baik anda buang air kecil dulu, lalu langsung berangkat. Dengan membelakangi pos polisi, dan jalan tempat anda masuk di sebelah kiri tangan kalian, jalan lah ke sebelah kanan anda. Sampai anda keluar dari terminal guntur. Anda akan menemuka banyak angkot menuju Cisurupan. Angkotnya berwarna biru, dan anda bisa mencapai Cisurupan dengan 5000 rupiah kalau anda bisa menawar harga. Banyak juga sih angkot yang mau mengantar anda langsun

g ke papandayan.  Kalau bingung, tanya pak polisi aja.

Setibanya di Cisurupan, anda disarankan untuk mencarter sebuah mobil pick up untuk sampai ke kawasan wisata papandayan. Biasanya satu mobil disewa dengan harga 90ribuan. Ada juga ojeg untuk kesana, tapi kalau anda beramai2, akan lebih murah dan efektif menggunakan mobil bak terbuka ini. Kami pun menaiki salah satu mobil pick up, ternyata menyenangkan sekaligus menyakitkan sekali naik di atas bak terbuka ini. Menyenangkan karena bisa melihat ke sekeliling dan merasakan udara yang mulai mendingin. Menyakitkan setiap sopir mobil tidak hati hati terhadap jalan yang rusak, lumayan juga pantat menghantam dudukan yang keras.

Kami tiba sekitar pukul 10.30 di kawasan wisata kawah papandayan. Kami pun mulai kelaparan, kami memesan indomie kuah. Saya memesan dua lebih tepatnya. Saat ingin membayar saya benar – benar kaget karena ternyata satu buah indomie harganya mencapai 6000 rupiah. Woowww. Setelah kenyang, lalu membuang air kecil dulu, kami pun siap – siap berangkat.

Kawah papandayan, gunung vulkanik aktif yang meletus tahun ***. Menyisakan keindahan alam yang luar biasa dari semburan – semburan gas alam

yang sangat indah dan bau (pastinya). Jalan yang dilewati pada daerah ini adalah jenis batu batuan yang

mudah terpeleset. Panas matahari siang tak

papandayan

hayal menusuk ke dalam jaket saya. Jalan cukup menanjak dan panjang.

Setelah berjalan cukup jauh anda akan menemukan jalan buntu karena entah longsor atau yang lain. Kami pun memilih jalur yang ada di sebelah kanan. Masuk daerah ini, sudah mulai ada tumbuhan dan tekstur tanah coklat basah pun menyambut. Dalam perjalanan kami  menemui sungai kecil. Tampaknya tidak terlalu bersih, jadi tidak disarankan untuk diminum. Perjalanan setelah ini kami dihadapkan dengan tekstur tanah coklat debu. Tanah ini sangat licin dan jalan cukup sempit. Tanjakkan yang terjal membuat saya mulai kehabisan napas, t

erlebih lagi debu debu mulai menyesakkan dada saya.

Sekitar pukul 13.00 kami tiba di check point pertama. Memang perjalanan kami cukup lambat, dikarenakan cukup banyak yang ikut mendaki dan carrier yang berat. Kami banyak menghabiskan waktu untuk istirahat. Setelah menarik napas dan menegak minuman kami di check point pertama, kami melanjutkan perjalanan menuju pondok selada, tempat kami berkemah.

Kami tiba di pondok selada sekitar pukul 13.45. rencananya kami akan naik ke puncak hari ini. Tapi melihat anggota pendaki yang sudah kelelahan, dan hari yang sudah hampir sore, kami pun mengurungkan niat dan menunggu pagi untuk menuju puncak. Kami pun mendirikan tenda di tempat yang kami anggap cocok. Sempat kami bertemu babi hutan disini.

Malam kami isi dengan api unggun untuk menghangatkan kami dari dinginnya malam yang menembus tulang. Saya senang sekali saat saat seperti ini.

Pagi hari kami bangung sekitar jam 5 pagi. Dingin bukan main. Dingin bukan main. Saya termasuk yang tidak tahan dingin. Dua buah kaos kaki, celana pendek dilapis celana panjang, kaos, jumper, sweater, jaket, sarung tangan, dan kupluk sudah membungkus seluruh tubuh saya.

Setelah makan pagi, kami menitip barang di ranger, lalu kita berangkat ke puncak tanpa carrier. Kira – kira jam 07.30 kita mulai berangkat. Track pertama sungguh mengagetkan, kita langsung dihadapkan pada batu2an besar seperti bekas sungai setinggi puluhan meter (dengar2 ratusan meter). Karena tidak membawa carrier, kami sangat mudah bergerak. Jalur berikutnya yang ditempuh adalah hutan – hutan dengan dahan yang menjulur kemana mana. Setelah satu setengah jam berangkat, kami sampai di tegal alur. Sebuah dataran tandus luas. Luas bukan main.

Tanahnya kering dan retak. Pemandangan menjadi lebih dramatis dengan sisa batang bonggol pohon yang hangus dilibas sang lahar panas. Indah sekaligus ngeri.

Setelah puas menghabiskan waktu di Tegal Alur, saya berangkat menuju puncak Papandayan. Puncak Papandayang memang tidak begitu terlihat karena tidak ada tanda yang jelas. berhubung kami tidak menggunakan guide, kami pun tersasar. Karena tim sudah merasa tidak aman, maka kami memutuskan untuk turun. kami melewati track pergi kami sebelumnya. Sampai di Pondok Selada kami pun mengambil carrier masing – masing dan berangkat menuju kaki gunung papandayan.

Setelah sampai di parkiran kawasan wisata nya, kami pun membeli makan untuk mengisi perut yang keroncongan. Dari sini kita bisa carter pick up untuk sampai ke terminal Guntur, Garut. Dari terminal Guntur kita kembali naik bus yang mengantar kita sebelumnya kemari.

Inilah perjalana pertama yang saya tulis. Mohon maaf kalau tidak begitu lengkap. Untuk pertanyaan silakan email saja atau leave comment.

Salam Jelajah, Winda Banyuradja